Post hero image
Mental Health 4 min read 21 views

Ketika "Bunglon" Lupa Warna Aslinya: Bahaya Terlalu Ingin Disukai Semua Orang

Sering bilang 'ya' padahal ingin bilang 'tidak'? Hati-hati, keinginan untuk disukai semua orang perlahan bisa mengikis siapa diri kamu yang sebenarnya.

Ketika “Bunglon” Lupa Warna Aslinya: Bahaya Terlalu Ingin Disukai Semua Orang

Pernah gak sih kamu ada di satu situasi di mana kamu cuma mengangguk setuju, padahal di dalam hati kamu berteriak “Enggak, aku gak setuju!”?

Atau mungkin, kamu rela mengubah selera musik, cara berpakaian, bahkan gaya bicaramu cuma demi diterima di suatu tongkrongan?

Jujur deh, rasanya capek banget, kan? Terkadang kita merasa seperti berjalan di atas telanjang kaki di atas pecahan kaca—harus sangat berhati-hati agar tidak membuat orang lain kecewa. Tanpa kita sadari, dalam proses “menyenangkan semua orang” itu, ada satu hal besar yang perlahan-lahan hilang dari hidup kita: diri kita sendiri.

Yuk, kita duduk santai sejenak dan ngobrol dari hati ke hati tentang jebakan halus bernama people pleasing ini.


1. Topeng Bunglon yang Makin Hari Makin Berat

Bunglon beradaptasi dengan mengubah warna kulitnya sesuai tempat ia hinggap. Keren, ya? Tapi bayangkan kalau bunglon itu berganti warna ribuan kali dalam sehari. Lama-lama, dia sendiri mungkin lupa: sebenarnya warna asliku itu apa, sih?

Saat kita terlalu berambisi untuk disukai semua orang, kita sedang memakai topeng yang berbeda-beda untuk orang yang berbeda. Di depan Si A kita jadi sosok yang kalem, di depan Si B kita jadi sosok yang serba tahu, di depan Si C kita berpura-pura suka hal yang sebenarnya kita benci.

Lama-kelamaan, energi kita habis bukan untuk hidup, tapi untuk bersandiwara.

2. Paradoks “Buah Alpukat Terbaik”

Ini ada satu pemikiran yang mungkin bisa jadi pencerahan buat kamu hari ini:

“Kamu bisa jadi buah alpukat paling matang, paling lezat, dan paling sempurna di dunia. Tapi ingat, di luar sana akan selalu ada orang yang memang gak suka alpukat.”

Sederhana, tapi mind-blowing, kan?

Mau sebaik apa pun kamu, mau sesempurna apa pun caramu bersikap, kamu tidak akan pernah bisa mengontrol isi kepala dan selera orang lain. Mengharapkan semua orang menyukaimu itu seperti mengharapkan hujan tidak membasahi bumi. mustahil dan menguras tenaga.

3. Menukar “Persetujuan Orang Lain” dengan “Kedamaian Diri”

Ketika fokus utamamu adalah “Gimana ya caranya supaya mereka suka sama aku?”, kamu secara tidak langsung menyerahkan remote kontrol bahagiamu ke tangan orang lain.

  • Kalau mereka memuji, kamu merasa berharga.
  • Kalau mereka dingin atau gak suka, kamu merasa hancur dan langsung kepikiran semalaman.

Di sinilah kamu kehilangan kompas internal. Kamu tidak lagi mengambil keputusan berdasarkan apa yang kamu butuhkan, melainkan berdasarkan apa yang orang lain ingin lihat dari dirimu.

4. Mind-Blowing Shift: Ubah Pertanyaan di Kepala Kamu

Coba deh, mulai hari ini, ubah satu pertanyaan sederhana yang selalu ada di pikiranmu saat bertemu orang baru atau berada di lingkungan baru.

Ubah pertanyaan ini:
❌ “Apakah mereka bakal menyukai aku?”

Menjadi pertanyaan ini:
✅ “Apakah aku menyukai diriku sendiri saat aku sedang bersama mereka?”

Coba rasakan perbedaannya. Pertanyaan kedua mengembalikan kendali ke tanganmu. Kamu tidak lagi menjadi “korban” yang menunggu dinilai, tapi kamu menjadi individu yang sadar akan kenyamanan dan nilai (values) dirimu sendiri.


Menemukan Kembali Warnamu yang Hilang

Menjadi orang baik itu mulia, tapi menjadi orang yang mengorbankan prinsip dan identitas demi validasi orang lain adalah bentuk ketidakadilan pada diri sendiri.

Ditolak atau tidak disukai oleh beberapa orang bukanlah sebuah tragedi. Justru, itu adalah penyaring alami dalam hidup. Hal itu memberi ruang bagi orang-orang yang benar-benar menyukai dirimu apa adanya—tanpa perlu topeng, tanpa perlu sandiwara.

Jadi, bayangkan betapa indahnya kalau kamu bisa menarik napas dalam-dalam, tersenyum, dan berkata pada dirimu sendiri:
“Gak apa-apa kalau ada yang gak suka. Yang penting, aku gak kehilangan diriku sendiri lagi.”

Sudah siap untuk melepas topengmu hari ini?

A

DEWI ELMIZAR

Author

Dewi Elmizar senang menjelajahi satu hal yang sering kita jalani setiap hari, tetapi jarang benar-benar kita pahami: diri kita sendiri. Tentang pikiran yang membentuk cara kita melihat dunia, emosi yang diam-diam memengaruhi pilihan, dan pengalaman yang membuat kita menjadi siapa hari ini. Melalui tulisan dan berbagai karya, Dewi mengajak kita berhenti sejenak, melihat ke dalam, lalu bertanya kembali: “Mungkin yang selama ini kita cari di luar, sebenarnya sedang menunggu kita temukan di dalam.”